Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga. Menjadi suami bukan hanya tentang bekerja lalu menyerahkan uang belanja. Setelah menikah, seorang suami memikul tanggung jawab terhadap nafkah, perlindungan, pendidikan keluarga, pengasuhan anak, serta kehidupan rumah sehari-hari.
Pelaksanaannya dapat berbeda pada setiap keluarga, terutama ketika suami dan istri sama-sama bekerja. Namun, perbedaan susunan peran tidak menghapus kebutuhan akan komunikasi, musyawarah, dan pembagian beban yang adil.
Agar tidak tercampur, pembahasan berikut membedakan ketentuan hukum Indonesia, prinsip dalam Islam, dan penerapannya dalam kehidupan keluarga.
Apa yang Dimaksud dengan Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga?
Kewajiban suami adalah tanggung jawab yang muncul setelah terjadinya perkawinan. Cakupannya bukan hanya kebutuhan keuangan, tetapi juga perlindungan, perlakuan yang baik, bimbingan agama, pengasuhan anak, dan keterlibatan dalam urusan keluarga.
Sebutan kepala keluarga tidak berarti suami bebas memutuskan semuanya sendiri. Kepemimpinan rumah tangga membawa amanah: mempertimbangkan kebutuhan anggota keluarga, menanggung akibat dari keputusan, serta membicarakan urusan penting bersama istri.
Dasar Kewajiban Suami Menurut Hukum dan Islam
Menurut UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam
Pasal 33 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebut bahwa suami dan istri wajib saling mencintai, menghormati, setia, serta memberi bantuan lahir dan batin.
Pasal 34 ayat (1) mengatur bahwa suami wajib melindungi istri dan memberikan kebutuhan hidup rumah tangga sesuai kemampuannya. Apabila salah satu pihak melalaikan kewajibannya, pihak lain dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan.
Bagi keluarga Muslim, Kompilasi Hukum Islam yang disebarluaskan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 memberi rincian tambahan. Pasal 80 memuat tanggung jawab suami atas nafkah, pakaian, tempat tinggal, biaya rumah tangga, perawatan, pengobatan istri dan anak, serta pendidikan anak sesuai penghasilannya.
Prinsip Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an mengajarkan agar suami memperlakukan istri dengan cara yang patut dalam QS An-Nisa ayat 19.
QS Al-Baqarah ayat 233 juga memuat tanggung jawab ayah atas makanan dan pakaian sesuai cara yang patut. Sementara itu, QS Ar-Rum ayat 21 menggambarkan perkawinan sebagai tempat tumbuhnya ketenteraman, kasih, dan sayang.
Hadis riwayat Bukhari yang disampaikan melalui Aisyah RA juga menceritakan bahwa Rasulullah SAW membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Teladan ini menunjukkan bahwa keterlibatan suami dalam urusan domestik tidak mengurangi wibawa atau kedudukannya.
5 Tanggung Jawab Utama Suami terhadap Istri dan Keluarga
1. Memberikan Nafkah Sesuai Kemampuan
Nafkah suami tidak hanya berbentuk uang saku. Kebutuhan ini dapat meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal, biaya rumah tangga, perawatan, pengobatan, serta pendidikan anak.
Frasa “sesuai kemampuan” bukan alasan untuk diam atau menghindari pembicaraan. Suami dan istri tetap perlu membicarakan penghasilan, utang, kebutuhan pokok, tabungan, dan prioritas keluarga. Keterbukaan membantu pasangan menyusun anggaran yang dapat dijalankan bersama.
Contoh sederhananya, pasangan dapat membagi pengeluaran menjadi kebutuhan wajib, dana darurat, kebutuhan anak, dan pengeluaran yang masih dapat ditunda. Saat penghasilan turun, perubahan anggaran sebaiknya dibahas lebih awal, bukan setelah tagihan menumpuk.
2. Melindungi dan Memperlakukan Istri dengan Baik
Perlindungan tidak berhenti pada keamanan fisik. Suami juga perlu menjaga martabat istri, tidak merendahkan, tidak membuka aib, dan tidak menggunakan kedudukannya untuk menekan pasangan.
Perlakuan baik terlihat dari cara berbicara, menyelesaikan perbedaan, menanggapi keluhan, serta menghormati kondisi tubuh dan pikiran pasangan.
Kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran rumah tangga bukan bentuk kepemimpinan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 melarang kekerasan dalam lingkup rumah tangga.
3. Memberi Bimbingan Agama dan Teladan
Peran suami dalam Islam juga berkaitan dengan pendidikan agama keluarga. Bentuknya dapat berupa mengajak beribadah, memberi kesempatan belajar, membiasakan akhlak yang baik, dan mencari jawaban bersama ketika ada persoalan agama.
Bimbingan akan lebih mudah diterima ketika disertai contoh. Suami yang meminta keluarganya berbicara lembut perlu menjaga ucapannya. Suami yang mengajak hidup jujur juga perlu terbuka dalam urusan keuangan dan keputusan keluarga.
Menjadi pembimbing tidak berarti harus mengetahui semua jawaban. Berkonsultasi kepada orang yang ahli ketika menghadapi persoalan juga merupakan bentuk tanggung jawab.
4. Terlibat dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak
Ayah bukan hanya pihak yang membayar biaya sekolah. Anak membutuhkan waktu, perhatian, batasan yang sehat, dan contoh perilaku dari kedua orang tuanya.
Keterlibatan suami dapat dilakukan dengan menemani anak belajar, menghadiri pertemuan sekolah, merawat anak saat sakit, membicarakan aturan pemakaian gawai, serta ikut mengambil keputusan tentang kesehatan dan pendidikan.
Ketika ayah sering bekerja di luar rumah, kehadiran tetap dapat dibangun melalui jadwal yang konsisten. Waktu yang singkat tetapi penuh perhatian lebih berguna daripada berada di rumah sambil terus sibuk dengan pekerjaan atau ponsel.
5. Berkomunikasi dan Ikut Menangani Kebutuhan Rumah
Pekerjaan rumah tangga tugas siapa? Jawabannya tidak selalu sama pada setiap keluarga. Pembagian dapat mempertimbangkan jam kerja, kemampuan, kondisi kesehatan, usia anak, dan dukungan lain yang tersedia.
Suami dapat mencuci piring, memasak, membersihkan kamar, berbelanja, atau mengantar anak. Teladan Rasulullah SAW yang membantu keluarganya memberi dasar kuat bahwa pekerjaan domestik bukan perkara yang merendahkan suami.
Agar pembagian tidak hanya bergantung pada satu pihak, buat daftar tugas mingguan. Tentukan siapa yang mengerjakan, kapan selesai, dan apa yang perlu diganti ketika salah satu pasangan sakit atau sedang memiliki beban kerja tinggi.
Untuk melihat sisi pasangan secara lebih lengkap, baca juga tugas istri dalam rumah tangga.
Bagaimana Jika Istri Juga Bekerja?
Istri yang bekerja tidak otomatis menghapus kewajiban nafkah suami. Penghasilan istri tetap perlu dihormati, sedangkan kontribusi untuk kebutuhan keluarga sebaiknya dibicarakan melalui persetujuan bersama.
Pada keluarga dengan dua orang yang bekerja, pembagian pekerjaan domestik juga perlu ditinjau. Tidak adil bila keduanya bekerja di luar rumah, tetapi seluruh pekerjaan rumah dan pengasuhan tetap dibebankan kepada satu pihak.
Pembagian dapat dibuat menurut waktu dan kemampuan. Misalnya, pasangan yang pulang lebih awal menyiapkan makan, sedangkan pasangan lain membersihkan dapur dan menyiapkan kebutuhan anak untuk esok hari.
Apa Saja Hak Suami dan Tanggung Jawab Bersama?
Artikel ini berfokus pada kewajiban suami, tetapi perkawinan juga melahirkan hak suami dan tanggung jawab bersama.
Suami dan istri perlu saling menghormati, menjaga kesetiaan, memelihara amanah, memberi bantuan lahir dan batin, serta membahas keputusan penting bersama.
Hak tidak boleh dipakai untuk membenarkan ucapan kasar, paksaan, atau kekerasan. Sebaliknya, pembicaraan tentang kewajiban juga tidak semestinya berubah menjadi perlombaan untuk menghitung siapa yang paling banyak berkorban.
Tujuannya adalah membangun keluarga yang dapat menjalankan kebutuhan hidup, ibadah, pengasuhan, dan hubungan pasangan dengan kerja sama yang sehat.
Jika Suami Tidak Menjalankan Tanggung Jawab
Tidak semua masalah memiliki penyebab yang sama. Ada suami yang sedang sakit atau kehilangan pekerjaan, ada yang kurang memahami kebutuhan keluarga, dan ada pula yang sengaja mengabaikan tanggung jawab.
Mulailah dengan menyebut masalah secara spesifik: kebutuhan apa yang tidak terpenuhi, sejak kapan, dan dampaknya bagi istri atau anak. Bila aman, bicarakan langkah perbaikan, tenggat, dan pembagian tugas yang baru.
Jika pembicaraan tidak menghasilkan perubahan, pertimbangkan bantuan mediator keluarga, konselor perkawinan, KUA, penasihat hukum, atau Pengadilan Agama sesuai jenis persoalannya.
Pasal 34 ayat (3) UU Perkawinan membuka jalur gugatan ketika suami atau istri melalaikan kewajibannya. Untuk kasus kekerasan atau ancaman, utamakan keselamatan dan cari bantuan resmi.
Kenyamanan Rumah Juga Perlu Diperhatikan
Tempat tinggal yang layak bukan hanya mempunyai atap dan dinding. Kebersihan, sirkulasi udara, ruang bergerak, dan tempat istirahat juga memengaruhi kenyamanan keluarga.
Untuk kamar pasangan, perhatikan ukuran kasur, ruang tidur yang tersedia, kebiasaan tidur, serta apakah gerakan salah satu pasangan sering membangunkan yang lain. Saat perlu mengganti tempat tidur, bandingkan bahan, sistem pegas, tingkat kekerasan, ukuran, dan garansi sebelum membeli.
Quantum Springbed menyediakan koleksi kasur springbed yang dapat dipelajari sesuai kebutuhan ruang dan keluarga. Pemilihan kasur tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, kebiasaan tidur, dan anggaran.
FAQ tentang Kewajiban Suami
1. Apakah kewajiban suami hanya mencari nafkah?
Tidak. Nafkah merupakan tanggung jawab penting, tetapi suami juga perlu melindungi keluarga, memperlakukan istri dengan baik, ikut mendidik anak, memberi teladan agama, dan terlibat dalam kebutuhan rumah.
2. Apakah suami tetap wajib memberi nafkah jika istri bekerja?
Secara umum, pekerjaan istri tidak otomatis menggugurkan tanggung jawab nafkah suami. Susunan keuangan keluarga sebaiknya dibicarakan secara terbuka dan tanpa paksaan.
3. Pekerjaan rumah tangga kewajiban siapa menurut Islam?
Terdapat rincian pandangan fikih mengenai pekerjaan domestik. Dalam penerapannya, suami dan istri dapat membagi tugas melalui musyawarah, kemampuan, waktu, dan keadaan keluarga. Rasulullah SAW juga memberi teladan dengan membantu keluarganya di rumah.
4. Jika suami sakit, tanggung jawab rumah menjadi milik siapa?
Keluarga perlu menyesuaikan pembagian untuk sementara. Istri, kerabat, atau bantuan berbayar dapat membantu sesuai kemampuan. Ketika keadaan suami membaik, pembagian dapat dibicarakan kembali.
5. Apa yang dapat dilakukan jika suami tidak bertanggung jawab?
Sebutkan masalah secara rinci, bicarakan perbaikan bila keadaan aman, lalu cari bantuan mediator, konselor, KUA, atau penasihat hukum bila diperlukan. Untuk kekerasan atau ancaman, dahulukan perlindungan diri dan anak.
Kesimpulan
Kewajiban suami dalam rumah tangga mencakup nafkah, perlindungan, bimbingan agama, pengasuhan anak, serta keterlibatan dalam kebutuhan rumah. Semua itu tidak dijalankan melalui perintah saja, melainkan melalui contoh, keterbukaan, dan musyawarah.
Rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh satu pihak yang bekerja sendirian. Suami dan istri memiliki hak serta tanggung jawab masing-masing, lalu menyatukannya melalui kerja sama yang menghormati kemampuan dan keadaan keluarga.


